Lagu lagu

Rabu, 05 Mei 2021

Keutamaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan

 

Keutamaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan

 

Oleh Rahmi Ifada, S.Ag, M.Pd.I

( Guru PAI SMAN 1 cigombong Bogor)

 

Ketika datang bulan Ramadhan penuh suka cita kita menyambutnya. Tamu agung telah datang bulan istimewa, bulan suci umat Islam bulan suci Ramadhan.

Bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat kasih sayang dan  keberkahan, bulan penuh ampunan dan terbebas dari api neraka (itqun minan naar).  Bulan Ramadhan adalah bulannya orang-orang yang bertakwa. Dikutip dari Abdul Manan dalam bukunya Kesempurnaan Ibadah Ramadhan menyebutkan bahwa bulan ini memiliki nama yang banyak, dengan arti yang sama-sama mulia.  Ramadhan disebut sebagai syahrullah karena Allah menyandarkan puasa pada diri-Nya. Disebut Syahrul Qur’an karena di dalamnya diturunkan Al-Quran. disebut Syahrus Siyam karena di bulan ini dilatih diri untuk melaksanakan ibadah yang Allah sandarkan kepada diri-Nya bagi yang berpuasa.  Disebut pula Syahrul  Rahmah  karena di bulan ini, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Kemuliaan bulan ini berlanjut hingga di 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan.

Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, sedangkan akhirnya adalah terbebas dari neraka."

Pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan amatlah disukai oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, "Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersungguh-sungguh di 10 terakhir di bulan Ramadhan lebih dari pada bersungguh-sungguhnya beliau di hari-hari lainnya." (HR. Muslim dan Ahmad).

Juga Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha bahwasannya "dahulu Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam apabila telah masuk 10 terakhir beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Arti dari perkataan 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha bahwasannya beliau "mengencangkan ikat pinggangnya" yaitu beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah dan menjauhi istri-istrinya.

Beliau tidak berhubungan badan dengan mereka di malam-malam sepuluh terakhir dan sibuk bermunajat kepada Allah SWT.

 

Di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan sering disebut juga dengan malam Lailatul Qadar. Malam ini disebutkan dalam Al-Quran malam yang lebih baik dari malam seribu bulan.

Prof. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-quran  menegaskan bahwa lailatul qadar merupakan malam yang mulia, yang apabila diraih maka ia akan menetapkan masa depan umat manusia. Pada malam itu para malaikat turun ke bumi membawa ketenangan dan kedamaian.

Lailatul qadar adalah malam yag ditunggu - tunggu kehadirannya oleh semua umat manusia, yaitu suatu malam yang ibadah pahalanya lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun membawa rahmat bagi seluruh alam tanpa kecuali sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al qadr ayat 1-4

 

Amalan pada sepuluh Hari Sebelum Ramadhan Berakhir

Amalan-amalan utama apa saja yang harus kita dikerjakan ketika sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan?

Tentu saja amal kebaikan yang akan bernilai pahala di hadapan Allah Swt. Menurut Syekh Zainuddin Al-Malibari, penulis Fathul Baari menyebut ada tiga amalan yang mesti diamalkan yaitu, Pertama memperbanyak sedekah, kedua memperbanyak membaca Al-Quran dan ketiga memperbanyak i’tikaf di masjid.

 

Selanjutnya ada banyak amalan-amalan yang bisa kita lakukan, yaitu :

1. Memperbanyak amal shadaqah

Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Maka orang yang bersedekah merupakan orang yang benar pengakuan imannya. Sedangkan menurut syariat, sedekah hampir sama dengan infaq yaitu mengeluarkan harta untuk kepentingan sesuatu. Dalam pengertian ini, sedekah lebih luas cakupannya karena tidak terbatas pada barang materi saja. Namun juga non-materi seperti amar ma’ruf nahi munkar.

 

Dalam sepuluh hari terakhir ramadhan, sedekah merupakan amalan yang utama. Karena keutamaan ini tidak hanya didapatkan oleh orang yang bersedekah, namun dinikmati juga oleh orang yang menerimanya. Hal ini menggambarkan bahwa sedekah tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah namun juga mendekatkan hubungan baik kepada sesama. Maka tak heran jika di hari-hari itu setiap orang berlomba-lomba untuk menghidangkan makanan dan minuman untuk sahur dan berbuka puasa, memberikan santunan kepada anak yatim piatu dan memberikan sedekah untuk kegiatan keagamaan  lainnya.

 

Sebagian ulama menyebutkan bahwa keutamaan sedekah ini tidak hanya di 10 hari terakhir ramadhan. Melainkan keseluruhan setiap harinya meskipun sedekah itu nominalnya sedikit. Karena yang lebih utama dari sedekah bukanlah jumlah nominalnya, melainkan keistiqamahannya.

 

2. Memperbanyak tadarus/Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Quran termasuk amalan yang utama di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Pada bulan inilah nuzulul Qur’an diperingati. Peringatan seperti ini biasa disambut oleh umat muslim untuk tadarus bersama, kajian Al-Quran, khataman bin-nadhar (khataman Al-Quran dengan membaca Al-Quran menggunakan mushaf), hingga khataman bil-ghaib (khataman Al-Quran tanpa menggunakan mushaf yang biasa dilakukan oleh para huffadz).

 

Membaca Al-Quran menurut Rasulullah, sebagai upaya untuk berbincang dan berkomunikasi kepada Allah SWT. Selain itu, membaca Al-Quran juga akan mendapatkan berbagai keistimewaan. Seperti hidup lebih bahagia, selamat dari hisab di hari mahsyar, mendapat naungan (rahmat) Allah di hari pembalasan, dan mendapatkan petunjuk sehingga tidak akan tersesat.

 

Menurut Imam Nawawi, membaca Al-Quran di sepuluh hari terakhir ramadhan lebih utama dilakukan setelah shalat subuh. Sedangkan menurut Abu Bakar Syatha lebih utama dilakukan ketika malam hari, karena lebih fokus dan totalitas beribadah.

 

3. Memperbanyak I’tikaf di Masjid

I’tikaf artinya berdiam di dalam masjid dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurut berbagai riwayat hadis, Rasulullah selalu rutin beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.  Bahkan sebelum wafatnya, Rasulullah beri’tikaf selama 20 hari seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah. Pelaksanaan i’tikaf ini, tidak bisa dipisahkan dari momentum pencarian lailatu qadar. I’tikaf seperti ini harus dilakukan di masjid sebagai wujud syiar agama Allah.

Lantas, apa saja yang perlu dilakukan saat beri’tikaf? Untuk menggapai kemuliaan di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan ini, i’tikaf tidak hanya serta-merta berdiam saja tanpa melakukan apapun. Sesuai dengan tujuan i’tikaf untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,  maka orang beri’tikaf seyogyanya mengisi amal ibadah. Amalan-amalan seperti shalat sunnat, membaca Al-Qur’an, bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, istighfar, shalawat Nabi, serta memperbanyak do’a dan tafakkur harus menjadi pelengkap i’tikaf.

Selain itu, dapat juga dilakukan dengan amalan kebajikan lainnya, seperti; mempelajari tafsir, hadits, dan atau ilmu-ilmu agama Islam lainnya, serta menghindari segala hal yang tidak ada manfaatnya.

 

4.  Memperbanyak doa dan bermunajat kepada Allah Swt.

Rasulullah SAW  memerintah Ummul Mukminin Aisyah untuk berdoa di malam-malam sepuluh hari terakhir.

Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?", beliau menjawab: "Ucapkanlah, Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anna" (Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku)." (HR. Ibnu Majah, yang dishahihkan oleh Al Albani).

 

5. Memperbanyak shalat malam

Rasulullah menyebutkan bahwa shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat lima waktu (maktubah), seperti dalam sabdanya:

"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sebaik-baik shalat setelah shalat fardlu adalah shalat malam." (HR Muslim).

 

 6. Banyak berzikir kepada Allah

Perintah Zikir ini terdapat dalam beberapa surat, di antaranya adalah Surat Al Araf ayat 205 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut) nama Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya."

Selalai apa pun, zikir tetap harus dilakukan untuk mendekatkan kita kepada Allah.

 

Zikir adalah amalan ibadah yang paling mudah dilakukan, kapan pun dan di mana pun. Begitu pentingnya zikir, dalam sebuah hadis bahkan disebutkan bahwa orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya seperti hidup bersama orang yang mati.

"Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. al-Bukhari).

Demikian tulisan singkat ini semoga kita dapat menjalankan amalan di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Ke enam amalan di atas merupakan upaya kemuliaan untuk menggapai keridhaan Allah Swt melalui amalan di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan. Kita selalu berharap semoga kita semua di bulan suci ramadhan kali ini bisa menggapai malam lailatul qadar , bisa terus berbuat kebaikan dengan penuh iman dan  ketakwaan.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.